Senin, 25 April 2011

Perempuan itu..

perempuan itu duduk di sudut kedai kopi yang masih lengang. sudut yang sama, yang selalu didudukinya bertahun terakhir ini. di depannya laptopnya dibiarkannya terbuka. seperti gelas kopi yang mengepul hangat di samping laptop yang belum di sentuhnya. pikirannya menerawang, kepingan kenangan berhamburan di kepalanya, sedang gerimis di luar perlahan mulai turun menyisakan jejak di kaca jendela samping tempatnya duduk.


perempuan itu masih saja terdiam. sementara lagu klasik romantis mulai mengalun di dalam kedai kopi itu. lalu dia mulai bersenandung kecil, mengikuti lagu yang tengah dimainkan. lagu yang liriknya begitu dia hapal, karena pada satu masa lagu itu pernah menjadi bagian hidupnya yang paling berharga. lalu dia tersenyum tipis, sekelebat bayangan masa lalu seperti sedang berputar perlahan.

perempuan itu berhenti bersenandung, dia meminum kopinya perlahan. dan mulai menutup laptopnya. dia tahu kini waktunya menyimpan kembali kenangankenangan itu. di sudut hatinya yang terkunci beku. sepasang mata yang hangat telah berdiri di depannya. tersenyum sabar menunggu perempuan itu membereskan barangbarangnya. perempuan itu tahu, dia telah menemukan seseorang yang menjaga hatinya kini. perempuan itu, aku..

Jakarta, April 2011. Perempuan itu.
oleh : "vanillaque" <n.pandanarum@gmail.com>
------------------------------------------------------------
Baiklah, mulai hari ini tidak ada lagi lagu usang kau nyanyikan sebagai luapan lengang dan sakit di hatimu.
Mulai detik ini tak ada lagi ruang kosong untuk kau jamahi serpihan masa lalu-mu.

Detik kesebelas, pukul empat kala jam dinding bermotif pohon semangka berdetak pelan, kamu bukan lagi pelita terang cinta ku. Lukisan di kanvas yg pernah kita torehkan luntur semua oleh hianat dendam tanpa alasan. Ah..engaku mencoba meniduri kembali kesadaran ku. Aku bilang,"Tak mau." Karena ku tahu kamu adalah wanita perompak yang hanya ingin menari di atas harta ku. Selamat malam, selamat jalan, noda mu. Sulit dihapus oleh air asam yg palng asam. (Ku tulis kala sedang liputan di Surabaya)

Rachmad Sadeli 

0 komentar:

Posting Komentar